BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Desain Pembelajaran
Desain
instruksional adalah suatu proses sistematis, efektif, dan efisien dalam
menciptakan sistem instrusional untuk memecahkan masalah belajar atau
peningkatan kinerja peserta didik melalui serangkaian kegiatan
pengindentifikasian masalah, pengembangan, dan pengevaluasian.[1]
Terdapat
beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian desain pembelajaran :
1. Herbert
Simon (Dick dan Carey, 2006) mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah. Suatu desain muncul karena kebutuhan
manusia untuk memecahkan suatu persoalan. melalui desain orang bisa melakukan
langkah-langkah yang sistematis untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.
Pada dasarnya desain adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari
penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespon kebutuhan tersebut,
selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan evaluasi
untuk menentukkan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
Dalam
konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang
sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran beserta aktivitas yang harus
dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta
perencanaan evaluasi keberhasilan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
sistem yang mencakup analisis tentang perencanaan, analisis pengembangan,
analisis implementasi, dan analisis evaluasi.
2. Gagne
(1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses
belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan
jangka panjang.
3. Sambaugh
(2006) menjelaskan tentang desain pembelajaran yakni sebagai suatu desain
pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran
kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut.
4. Gentry
(1994) berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses
menentukkan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan
serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan.
Dari
beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa desain instruksional
berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan siswa untuk
mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan
yang harus dicapai, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai
tujuan termasuk metode, teknik, dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik
evaluasi untuk mengukur atau menentukkan keberhasilan pencapaian tujuan.
B.
Kriteria
Desain Instruksional
Desain
instruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya :
1. Berorientasi
pada siswa
Pada bagian terdahulu
telah dijelaskan bahwa dalam sistem pembelajaran siswa merupakan komponen kunci
dan harus dijadikan orientasi dalam mengembangkan perencanaan dan mengembangkan
desain pembelajaran. Dalam hal ini sangat penting, sebab desain pembelajaran
dirancang untuk mempermudah siswa belajar. Dengan demikian, mendesain
pembelajaran perlu di awali dengan melakukan studi pendahuluan tentang siswa.
Beberapa hal yang perlu dipahami tentang siswa diantaranya :
a. Kemampuan
dasar
b. Gaya
belajar
2. Berpijak
pada pendekatan sistem
Sistem adalah sata
kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui
pendekatan sistem, bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi
juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui pendekatan
sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat
menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah, maka pendekatan sistem
dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yang dapat dilakukan oleh
para desainer pembelajaran.
3. Teruji
secara empiris
Sebelum digunakan,
sebuah desain instrusional harus teruji dahulu efektifitas dan efisiensinya
secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai
kelemahan dan berbagai kendala yang mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya
dapat diantisipasi. Selain itu, melalui pengkajian secara ilmiah dapat
meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.[2]
Perencanaan
desain intruksional ini dimaksudkan untuk bisa dipergunakan disekolah dasar,
sekolah lanjutan, maupun perguruan tinggi. Juga bisa diterapkan mula-mula dari
suatu judul, pokok bahasan, dan untuk kesatuan mata pelajaran yang pada
hakikatnya melibatkan beberapa pengajar.
Untuk
merencanakan desain intruksional tersebut ikutilah delapan langkah sebagai
berikut:
1.
Buatlah/susunlah
pokok-pokok bahasan, dan tentukan tujuan untuk tiap pokok bhasan tersebut.
2.
Sebutkan
karakteristik siswa yang penting sehubungan dengan desain yang akan di buat.
3.
Sebutkan
apa saja yang yang menjadi tujuan belajar yang akan dicapai oleh siswa di mana
hasil belajar siswa tersebut memungkinkan untuk diukur.
4.
Buatlah
daftar isi (materi) pelajaran yang akan membantu tiap tujuan sub 3 diatas.
5.
Kembangkan
suatu tes perkiraan untuk menjajagi latar belakang siswa dan pengetahuan siswa
tentang pokok bahasan yang akan diajarkan.
6.
Tentukan
kegiatan mengajar dan belajar. Serta pilihlah sumber-sumber belajarnya.
7.
Koorninasilah
semua rencana penunjang seperti anggaran, personalia, fasilitas, peralatan, dan
jadwal kegitatan untuk menunjang terlaksananya rencana pengajaran.
8.
Buatlah
evaluasi hasil belajar siswa untuk menguji kembali apakah perencanaan sudah
berjalan sebagaimana diharapkan atau belum.[3]
Kegiatan pokok bagi para pengembang
sistem dan desain intruksional meliputi:
1.
Menentukan
hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur.(learning
outcomes)
2.
Identifikasi
karakteristik sistem yang akan belajar.
3.
Berdasarkan
1 dan 2 tersebut, memilih dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar bagi
para siswa.
4.
Menentukan
media untuk kegiatan tersebut.
5.
Menentukan
sitiuasi dan kondisi, dalam mana responsi siswa akan diamati dan dipandang
sebagai salah satu contoh dari tingkah laku yang diharapkan.
6.
Menentukan
kriteria, seberapa prestasi siswa telah dianggap cukup.
7.
Memilih
metode yang tepat untuk menilai kemampuan siswa untuk mendemostrasikan tingkah
laku seperti tersebut pada angka 1.
8.
Menentukan
metode untuk memonitor responsi siswa sewaktu berada dalam proses pengajaran
dan sewaktu di evaluasi.
9.
Mengadakan
perbaikan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata
responsi siswa tidak sesui dengan hasil yang telah ditentukan.[4]
C.
Model-model
Desain Instruksional
Telah
dijelaskan bahwa desain sistem pembelajaran berbeda dengan perencanaan sistem
pembelajaran. Walaupun perencanaan pembelajaran berkaitan dengan desain
pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda. Berikut beberapa model
desain pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli :
1. Model
Banathy
Model
ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat
enam tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran, yakni :
a. Menganalisis
dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun tujuan spesifik.
Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta
didik.
b. Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam
tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan teks dapat
meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c. Menganalisis
dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginfentarisasi seluruh
kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai kondisi yang
ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d. Merancang
sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem,
mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e. Mengimplementasikan
dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai
efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.
f. Mengadakan
perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Manakala
kita lihat langkah 1 s/d 4 merupakan tahapan dalam rangka proses rancangan,
sedangkan tahap 5 dan 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah
dirumuskan.
2. Model
PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PPSI (Prosedur Pengembangan
Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk
medukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan
perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran
secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni :
a. Merumuskan
tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam
perumusan tujuan ini yakni tujuan harus operasional, artinya tujuan yang
dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan
proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan
tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
b. Mengembangkan
alat evaluasi, yakni menentukkan jenis tes dan menyusun item soal untuk
masing-masinang tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap dua setelah perumusan
tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan.
c. Mengembangkan
kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar
dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d. Mengembangkan
program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan
metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
e. Pelaksanaan
program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran,
mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.[5]
3.
Model
J.E. Kemp
Menurut
Kemp (1977) pengembangan intruksional atau desain intruksional itu terdiri dari
8 langkah, yaitu:
a.
Menentukan
tujuan intruksional umum (TIU).
b.
Menganalisis
karakteristik peserta didik.
c.
Menentukan
TIK.
d.
Menentukan
materi pelajaran
e.
Menetapkan
penjajagan awal.
f.
Menentukan
strategi belajar mengajar.
g.
Mengkoordinasi
sarana penunjang, yang meliputi tenaga fasilitas, alat, waktu dan tenaga.
h.
Mengadakan
evaluasi.
4.
Model
Briggs
Pengembangan
intruksional model briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran
guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan intruksional maupun tim
pengembang intruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli
bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang intruksional.
Berdasarkan
pendapat Briggs tersebut, secara keseluruhan model pengembangan intruksional
dari Briggs, terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Identifikasi
kebutuhan/penentuan tujuan.
b.
Penyusunan
garis besar kurikulum/rincian tujuan kebutuhan intruksional yang telah
dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus dirinci,
disusun dan diorganisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
c.
Perumusan
tujuan.
d.
Analisis
tugas/tujuan.
e.
Penyiapan
evaluasi hasil belajar.
f.
Menentukan
jenjang belajar.
g.
Penentuan
kegiatan belajar.
h.
Pemantauan
bersama.
i.
Evaluasi
formatif.
j.
Evaluasi
sumatif.
5.
Model
Gerlach dan Ely
Model
pengembangan intruksional yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely ini dimaksudkan
untuk pedoman perencanaan mengajar. Menurut Gerlach dan Ely, langkah-langkah
dalam pengembangan intruksional terdiri dari:
a.
Merumuskan
tujuan intruksional.
b.
Menentukan
isi materi pelajaran.
c.
Menentukan
kemampuan awal peserta didik.
d.
Menentukan
teknik dan strategi.
e.
Pengelompokan
belajar.
f.
Menentukan
pembagian waktu.
g.
Menentukan
ruang.
h.
Memilih
media intruksional yang sesuai.
i.
Mengevaluasi
hasil belajar.
j.
Menganalisis
umpan balik.[6]
[1] Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern,
(Jakarta, Erlangga, 2012). hlm. 85
[2] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Prenadamedia
Group, 2008). hlm. 66-69.
[3] Harjanto, Perecanaan Pengajaran, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1997) hlm. 140.
[4] Ibid, hlm. 97.
[5] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran,
(Jakarta: Prenadamedia Group, 2008) hlm.
73-76
[6] Harjanto, Perecanaan Pengajaran, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1997) hlm. 83