Minggu, 27 Maret 2016

Desain Pembelajaran



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Desain Pembelajaran
Desain instruksional adalah suatu proses sistematis, efektif, dan efisien dalam menciptakan sistem instrusional untuk memecahkan masalah belajar atau peningkatan kinerja peserta didik melalui serangkaian kegiatan pengindentifikasian masalah, pengembangan, dan pengevaluasian.[1]
Terdapat beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian desain pembelajaran :
1.      Herbert Simon (Dick dan Carey, 2006) mengartikan desain sebagai proses pemecahan  masalah. Suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan. melalui desain orang bisa melakukan langkah-langkah yang sistematis untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Pada dasarnya desain adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan evaluasi untuk menentukkan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
Dalam konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sistem yang mencakup analisis tentang perencanaan, analisis pengembangan, analisis implementasi, dan analisis evaluasi.
2.      Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang.
3.      Sambaugh (2006) menjelaskan tentang desain pembelajaran yakni sebagai suatu desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut.
4.      Gentry (1994) berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukkan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan.

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan yang harus dicapai, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik, dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukkan keberhasilan pencapaian tujuan.

B.     Kriteria Desain Instruksional
Desain instruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya :
1.      Berorientasi pada siswa
Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa dalam sistem pembelajaran siswa merupakan komponen kunci dan harus dijadikan orientasi dalam mengembangkan perencanaan dan mengembangkan desain pembelajaran. Dalam hal ini sangat penting, sebab desain pembelajaran dirancang untuk mempermudah siswa belajar. Dengan demikian, mendesain pembelajaran perlu di awali dengan melakukan studi pendahuluan tentang siswa. Beberapa hal yang perlu dipahami tentang siswa diantaranya :
a.       Kemampuan dasar
b.      Gaya belajar
2.      Berpijak pada pendekatan sistem
Sistem adalah sata kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah, maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yang dapat dilakukan oleh para desainer pembelajaran.
3.      Teruji secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain instrusional harus teruji dahulu efektifitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yang mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu, melalui pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.[2]
Perencanaan desain intruksional ini dimaksudkan untuk bisa dipergunakan disekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun perguruan tinggi. Juga bisa diterapkan mula-mula dari suatu judul, pokok bahasan, dan untuk kesatuan mata pelajaran yang pada hakikatnya melibatkan beberapa pengajar.
Untuk merencanakan desain intruksional tersebut ikutilah delapan langkah sebagai berikut:
1.      Buatlah/susunlah pokok-pokok bahasan, dan tentukan tujuan untuk tiap pokok bhasan tersebut.
2.      Sebutkan karakteristik siswa yang penting sehubungan dengan desain yang akan di buat.
3.      Sebutkan apa saja yang yang menjadi tujuan belajar yang akan dicapai oleh siswa di mana hasil belajar siswa tersebut memungkinkan untuk diukur.
4.      Buatlah daftar isi (materi) pelajaran yang akan membantu tiap tujuan sub 3 diatas.
5.      Kembangkan suatu tes perkiraan untuk menjajagi latar belakang siswa dan pengetahuan siswa tentang pokok bahasan yang akan diajarkan.
6.      Tentukan kegiatan mengajar dan belajar. Serta pilihlah sumber-sumber belajarnya.
7.      Koorninasilah semua rencana penunjang seperti anggaran, personalia, fasilitas, peralatan, dan jadwal kegitatan untuk menunjang terlaksananya rencana pengajaran.
8.      Buatlah evaluasi hasil belajar siswa untuk menguji kembali apakah perencanaan sudah berjalan sebagaimana diharapkan atau belum.[3]

Kegiatan pokok bagi para pengembang sistem dan desain intruksional meliputi:
1.      Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur.(learning outcomes)
2.      Identifikasi karakteristik sistem yang akan belajar.
3.      Berdasarkan 1 dan 2 tersebut, memilih dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar bagi para siswa.
4.      Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
5.      Menentukan sitiuasi dan kondisi, dalam mana responsi siswa akan diamati dan dipandang sebagai salah satu contoh dari tingkah laku yang diharapkan.
6.      Menentukan kriteria, seberapa prestasi siswa telah dianggap cukup.
7.      Memilih metode yang tepat untuk menilai kemampuan siswa untuk mendemostrasikan tingkah laku seperti tersebut pada angka 1.
8.      Menentukan metode untuk memonitor responsi siswa sewaktu berada dalam proses pengajaran dan sewaktu di evaluasi.
9.      Mengadakan perbaikan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa tidak sesui dengan hasil yang telah ditentukan.[4]

C.    Model-model Desain Instruksional
Telah dijelaskan bahwa desain sistem pembelajaran berbeda dengan perencanaan sistem pembelajaran. Walaupun perencanaan pembelajaran berkaitan dengan desain pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda. Berikut beberapa model desain pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli :
1.      Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan  melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat enam tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran, yakni :
a.       Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun tujuan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
b.      Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan teks dapat meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c.       Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginfentarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d.      Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e.       Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.
f.       Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.

Manakala kita lihat langkah 1 s/d 4 merupakan tahapan dalam rangka proses rancangan, sedangkan tahap 5 dan 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.  
2.      Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk medukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran  secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni :
a.       Merumuskan tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni tujuan harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
b.      Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukkan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masinang tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap dua setelah perumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
c.       Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d.      Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
e.       Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.[5]
3.      Model J.E. Kemp
Menurut Kemp (1977) pengembangan intruksional atau desain intruksional itu terdiri dari 8 langkah, yaitu:
a.    Menentukan tujuan intruksional umum (TIU).
b.    Menganalisis karakteristik peserta didik.
c.    Menentukan TIK.
d.   Menentukan materi pelajaran
e.    Menetapkan penjajagan awal.
f.     Menentukan strategi belajar mengajar.
g.    Mengkoordinasi sarana penunjang, yang meliputi tenaga fasilitas, alat, waktu dan tenaga.
h.    Mengadakan evaluasi.
4.      Model Briggs
Pengembangan intruksional model briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan intruksional maupun tim pengembang intruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang intruksional.
Berdasarkan pendapat Briggs tersebut, secara keseluruhan model pengembangan intruksional dari Briggs, terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan.
b.      Penyusunan garis besar kurikulum/rincian tujuan kebutuhan intruksional yang telah dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus dirinci, disusun dan diorganisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
c.       Perumusan tujuan.
d.      Analisis tugas/tujuan.
e.       Penyiapan evaluasi hasil belajar.
f.       Menentukan jenjang belajar.
g.      Penentuan kegiatan belajar.
h.      Pemantauan bersama.
i.        Evaluasi formatif.
j.        Evaluasi sumatif.
5.      Model Gerlach dan Ely
Model pengembangan intruksional yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely ini dimaksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar. Menurut Gerlach dan Ely, langkah-langkah dalam pengembangan intruksional terdiri dari:
a.       Merumuskan tujuan intruksional.
b.      Menentukan isi materi pelajaran.
c.       Menentukan kemampuan awal peserta didik.
d.      Menentukan teknik dan strategi.
e.       Pengelompokan belajar.
f.       Menentukan pembagian waktu.
g.      Menentukan ruang.
h.      Memilih media intruksional yang sesuai.
i.        Mengevaluasi hasil belajar.
j.        Menganalisis umpan balik.[6]



[1]  Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern, (Jakarta, Erlangga, 2012). hlm. 85
[2]  Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2008). hlm. 66-69.
[3]  Harjanto, Perecanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta,  1997) hlm. 140. 
[4]  Ibid, hlm. 97.
[5] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2008)  hlm. 73-76
[6]  Harjanto, Perecanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta,  1997) hlm. 83

Tidak ada komentar:

Posting Komentar