Sabtu, 15 Oktober 2016

Makalah Strategi Pembelajaran Bahasa Arab


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar, sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak. Anak didik merupakan individu yang berbeda. Maka dari itu hendaknya pembelajaran memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu.
Dalam pembelajaran bahasa arab masalah menjadi semakin rumit lagi, persoalan pembelajaran bahasa asing salah satunya adalah bahasa Arab menjadi issu sentral dan sangat rumit bagi kalangan akademis. Hal ini terjadi antara lain karena kekeliruan menerapkan strategi pembelajaran. Padahal pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, telah diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya, dan sekolah-sekolah agama pada hususnya, sejak tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga tingkat Perguruan Tinggi.
Pembelajaran yang efektif adalah belajar  yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik melalui prosedur yang tepat untuk tercipta suasana yang menyenangkan dan memaksimalkan hasil belajar yang telah direncanakan. Pembelajaran akan efektif bagi  peserta didik jika pembelajaran tersebut memiliki variasi dalam strateginya. Penggunaan strategi yang bervariasi  sangat mempengaruhi kondisi pembelajaran yang efektif dan membuat peserta didik termotivasi dalam belajar bahasa Arab.



B.     Rumusan Masalah
Dari uraian pada latar belakang kami menemukan beberapa permasalahan yang timbul, diantaranya:
1.      Apa pengertian dari strategi?
2.      Apakah pengertian pembelajaran bahasa arab?
3.      Strategi apa yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa arab?
C.    Tujuan Penulisan
Dapat mengetahui pengertian dari strategi dan pembelajaran bahasa arab. Selain itu, kita dapat mengetahui strategi apa saja yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa arab.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Strategi
Secara umum, strategi dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus ( yang diinginkan ).[1] Joni berpendapat bahwa yang dimaksud strategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang kondusif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Adapun ciri-ciri strategi menurut Stone dan Sirait adalah sebagai berikut:
1.      Wawasan Waktu, meliputi cakrawala waktu yang jauh ke depan, yaitu waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut dan waktu yang diperlukan untuk mengamati dampaknya
2.      Dampak, walaupun hasil akhir dengan mengikuti strategi tertentu tidak langsung terlihat untuk jangka waktu lama, dampak akhir akan sangat berarti
3.      Pemusatan upaya, sebuah strategi yang efektif bisanya mengharuskan pemusatan kegiatan, upaya, atau perhatian terhadap rentang sasaran yang sempit
4.      Pola keputusan, kebanyakan strategi mensyaratkan bahwa sederetan keputusan tertentu harus diambil sepanjang waktu. Keputusan-keputusan tersbeut harus saling menunjang, artinya mengikuti suatu polayang konsisten
5.      Peresapan, sebuah strategi mencakup suatu spektrum kegiatan yang luas mulai dari proses alokasi sumber daya sampai dengan kegiatan operasi harian. Selain itu, adanya konsistensi sepanjang waktu dalam kegiatan-kegiatan ini mengharuskan semua tingkatan organisasi bertindak secara naluri dengan cara-cara yang akan memperkuat strategi.
Dengan demikian, strategi dapat diartikan sebagai suatu susunan, pendekatan, atau kaidah-kaidah untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan tenaga, waktu, serta kemudahan secara otimal.
Strategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi pengeajaran lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran. Peranan strategi pengajaran lebih penting apabila guru mengajar siswa yang berbeda dari segi kemmapuan, pencapaian, kecenderungan, serta minat.[2]
B.     Strategi Pembelajaran Qira’ah ( Membaca )
Membaca merupakan materi terpenting diantara materi-materi pelajaran lainnya. Siswa tidak akan pandai pada pelajaran yang lain apabila dia tidak dapat membaca dengan baik. Dapat dikatakan bahwa membaca merupakan sarana terpenting dalam pencapaian tujuan pembelajaran bahasa Arab terutama pembelajar bahasa Non Arab.
Membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa yang tidak mudah dan sederhana, tidak sekedar membunyikan huruf-huruf atau kata-kata akan tetapi sebuah keterampilan yang melibatkan berbagai kerja akal dan pikiran. Membaca merupakan kegiatan yang meliputi semua bentuk-bentuk berpikir, memberi penilaian, memberi keputusan, menganalisis dan mencari pemecahan masalah. Maka terkadang orang yang sedang membaca teks harus berhenti sejenak atau mengulangi lagi satu atau dua kalimat yang telah dibaca guna berpikir dan memahami apa yang dimaksud oleh bacaan.[3]
Membaca sebenarnya meliputi kegiatan berpikir, menilai, menganalisis, dan memecahkan masalah. Membaca dapat dibagi menjadi; membaca jelas dan dalam hati, serta membaca intensif (mukasyafah)  dan ekstensif (muwassa’ah). Kegiatan membaca dapat dilakukan dengan, antara lain:
a. Muzakarat  al-Talamiz, yakni  dengan  mendorong  peserta  didik  untuk  mencari  tahu  dan  mempertanyakan hal-hal yang belum dimengerti dari sebuah wacana atau bacaan dengan cara  guru menentukan bacaan, guru memberi kesempatan antara 5-10 menit untuk mempelajari teks.  Setelah itu, peserta didik mengajukan pertanyaan kepada yang lain, kemudian guru menjelaskan  isi teks.
b. Akhziyat al-Nash, dengan membagi peserta didik dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok  diminta  mengambil  topik  yang  terdapat  dalam  setiap  alenia.  Setelah  selesai  perwakilan kelompok menyampaikan hasil kajian dari alenia tersebut pada kelompok lain, dan seterusnya.
c. Tartib al-Nash, teknis untuk mengetahui kemampuan dan pemahaman dalam membaca dari  peserta  didik.  Langkahnya  adalah  peserta  didik  dibagi  dalam  beberapa  kelompok,  setiap kelompok diminta untuk menyusun kembali kalimat atau wacana yang dipotong-potong atau terpisah sehinga tersusun kembali menjadi sebuah bacaan yang sistematis.[4] (aku ora iso nggawe fotnote jurnal, iki njupuk jurnal seng ipi49274 hal.6 )
d. Talkhis Jama’I, strategi ini membantu siswa untuk lebih akrab dan saling berinteraksi dalam menuangkan gagasan dalam memahami materi.[5] ( jurnal seng jurnal-B.-Arab hal. 11-12 )
C.    Strategi Pembelajaran istima’
Menyimak, sebagai salah satu keterampilan berbahasa, tidak kalah pentingnya dengan berbicara, membaca dan menulis. Menyimak, berbicara, membaca dan menulis harus disajikan secara terpadu dalam pembelajaran keterampilan berbahasa di MI/SD. Menyimak diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau melalui rekaman radio, telepon atau televisi. Bunyi bahasa yang diterima kemudian ditafsirkan maknanya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menyimak merupakan proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasikan, menafsirkan, menilai, dan mereaksi terhadap makna yang termuat pada wacana lisan. Jadi, peristiwa menyimak pada hakikatnya merupakan rangkaian kegiatan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi.[6]
Berdasarkan hasil penelitian ilmiah membuktikan, bahwa sebagian besar orang hanya dapat menyerap 30% saja dari pengetahuan yang didengarnya dan hanya dapat mengingat 25% dari apa yang ia serap dari pengetahuan. Oleh karena itu untuk dapat meningkatkan  daya serap pengetahuan yang di dengar maka maharotul istima’ perlu dilatih secara khusus.  Adapun strategi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
a.       Ta’lim muta’awin, strategi ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk saling berbagi hasil belajar dari materi yang sama dengan cara yang berbeda dengan membandingkan catatan hasil belajar.
b.      Talkhis magza’, strategi ini menguji kemampuan  menyimak terhadap isi cerita. Melalui pertanyaan (apa, siapa, mengapa, bagaimana, dimana dan kapan) siswa dapat memberikan jawaban sesuai dengan isi cerita yang disimak. Tujuan strategi ini untuk menumbuhkan proses berpikir kreatif dan kritis terhadap materi yang diberikan.
c.       Istima’ Mutabadil, melatih pendengaran peserta didik dengan cara menyajikan suatu bacaan dengan tema tertentu. Kemudian, meminta peserta didik untuk menganalisis dengan menggunakan kata-kata tanya (istifham). Strategi ini bertujuan agar peserta didik untuk tetap konsentrasi dan fokus pada materi yang sedang disampaikan.
d.      Istima’ al-ma’lumat aw al-akhbar, peserta didik dapat melatih pendengaran lewat kebiasaan mendengar berbagai berita dan informasi yang disajikan lewat media elektronik. Dari sajian latihan pendengaran model ini, maka peserta didik terbiasa memahami gaya bahasa yang digunakan dan model komunikasi yang dilakukan oleh native speaker. Strategi ini tujuannya adalah agar peserta konsentrasinya akan terfokus untuk tetap utuh dalam waktu yang cukup lama.
D.    Strategi Pembelajaran Kalam
Berbicara (Kalam) secara etimologis adalah perkataan, percakapan, dan pembicaraan. Adapun pengertian Berbicara (Kalam) secara terminologis adalah mengucapkan bunyi-bunyi bahasa arab secara benar dan akurat, dan bunyi-bunyi tersebut keluar dari makhraj al-huruf yang telah menjadi konsensus pakar bahasa.[7]
Keterampilan berbicara ini sebenarnya sangat menarik, akan tetapi sering terjadi sebaliknya, yaitu suasana menjadi kaku dan akhirnya macet. Hal ini disebabkan penguasaan kosa kata dan pola kalimat peserta didik yang minim, pendidik bahasa arab tidak memiliki kompetensi aktif, bahkan peserta didik kurang berani mengekspresikan kompetensinya karena takut salah. Namun, kunci keberhasilan keterampilan berbicara ini sebenarnya ada pada pendidik, dimana ia mampu menawarkan alternatif topik-topik yang aktual serta bervariasi.
Dalam pembelajaraan kalam ada beberapa hal yang harus diperhatikan pertama, mempunyai topik yang akan dibicarakan, kedua mempunyai kosa kata yang relevan dengan topik. Adapun strategi yang dapat digunakan dapat digunakan dalam pembelajaran kalam adalah sebagai berikut
a.       Khibrat mutsirah, menyampaikan topik bahasa Arab yang selalu dikaitkan dengan pengalaman peserta didik sehari-hari. Kemudian, meminta peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengalamannya yang disesuaikan dengan topik tersebut. Strategi ini bertujuan agar peserta didik mengungkapkan pengalaman yang pernah dialami berkaitan dengan teks yang akan diajarkan.
b.      Ta’bir al-ara’ al-ra’isiyyah, mengasah keberanian peserta didik untuk bicara dengan bahasa Arab secara spontan dan kreatif, yaitu dengan menjelaskan materi melalui peta konsep (labelisasi). Strategi ini bertujuan untuk mengasah keberanian peserta didik mengungkapkan bahasa Arab secara spontanitas kreatif.
c.       Tamtsiliyyah, mengajak peserta didik belajar bahasa Arab dengan cara bermain drama, masing-masing diberi peran sesuai skenario yang terdapat dalam bacaan. Pada kegiatan ini mempunyai dua manfaat, yaitu hiburan dan belajar berbahasa. Strategi ini bertujuan agar peserta didik dapat mengekspresikan dialek bahasa arab fusha dengan fasih sesuai dengan makhraj. Dan mengekplorasi kemampuannya dalam bermain peran.
d.      Ya’lab daur al-mudarris, strategi ini bertujuan untuk mendapatkan partisipasi lansung baik dari kelas ataupun individu dan setiap peserta didik dapat berperan sebagai guru dari kawan-kawannya.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan guru dalam pembelajaran kalam (berbicara) di SD/MI yaitu:
a.       Guru mulai melatih bicara dengan memberi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa.
b.      Pada saat yang bersamaan siswa diminta untuk belajar mengucapkan kata, menyusun kalimat dan mengungkapkan pikiran.
c.       Guru mengurutkan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh siswa sehingga berakhir membentuk sebuah tema yang sempurna.
d.      Guru bisa menyuruh siswa menghafalkan percakapan atau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan isi teks yang telah dibaca siswa.
Misalnya dalam pembelajaran kalam guru dapat memulai pembelajaran dengan menyebutkan nama-nama benda yang ada dalam ruang kelas dan meminta siswa untuk menyebutkannya kembali, setelah itu materi dilanjutkan dengan merangkai kosa kata tersebut menjadi suatu kalimat seperti:
هَذَا قَلَم اَيْنَ كِتَاب؟ كِتَاب فِي المَحْفَظَة
Selain itu dapat pula menggunakan gambar atau benda tertentu, kemudian guru membuat sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan gambar tersebut dan siswa diminta untuk menjawabnya atau meminta siswa menjelaskan gambar tersebut seperti gambar bunga dibawah ini.





مَا هذأ؟...
هذا وَردة
مَا لَوْنُهَا؟...
لَونُها اَحْمَر

DAFTAR PUSTAKA
Subur. (2006). “Pendekatan dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab”. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan Insania. 11, (2), 164-175.

Yusraini. (2012). “Strategi Pembelajaran Bahasa Arab dan Implikasinya Terhadap Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab”. Jurnal Media Akademika. 27, (3), 387-402.



[1]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke-4, ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008 ), hlm. 1340
[2] Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2011 ), hlm. 18-19
[3] M. Abdul Hamid, dkk., Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode, Strategi, Materi, dan Media, ( Malang: UIN-Malang Press, 2008), hlm. 46
[4] Subur. (2006). “Pendekatan dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab”. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan Insania. Vol. 11, No. 2, hal. 6.
[5] Yusraini. (2012). “Strategi Pembelajaran Bahasa Arab dan Implikasinya Terhadap Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab”. Jurnal Media Akademika. Vol. 27, No. 3, hal. 398.
[6] Hairuddin, dkk. Bahan Ajar Cetak Pembelajaran Bahasa Indonesia. (Jakarta: Direktorat  Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2008). Hal 3.5
[7] Drs. Zulhannan, M.A. Teknik Pembelajaran Bahasa Arab Intensif. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014). Hal. 95.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar