Sabtu, 15 Oktober 2016

Biografi Khalifah Utsman bin Affan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Banyak yang menganggap pemerintahan pada masa Khalifah Umar merupakan zaman keemasan Khulafaur Rasyidin. Namun dalam buku kitab sejarah peradaban islam terlengkap karya Abdul Syukur Al-Azizi menerangkan bahwa masa keemasan Khulafaur Rasyidin terjadi pada pemerintahan Utsman bin Affan. Banyak terjadi kesalahpahaman dalam memandang pemerintahan Utsman. Bahkan Khalifah Utsman dianggap sebagai penyebab perpecahan. Hal itu sangatlah keliru, menurut catatan ahli sejarah, pemerintahan Khalifah Utsman dibagi menjadi dua periode, yaitu periode enamtahun pertama merupakan masa pemerintahan baik, sedangkan periode enam tahun terakhir merupakan masa pemerintahan yang buruk.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian pada latar belakang kami menemukan beberapa permasalahan yang muncul.
1.      Bagaimana biografi Khalifah Utsman bi Affan?
2.      Bagaimana pengangkatan Utsman bin Affan menjadi khalifah?
3.      Bagaimana perkembangan Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan?
4.      Bagaimana berakhirnya kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan?
C.    Tujuan penulisan
1.      Untuk mengetahui secara detail tentang Khalifah Utsman bin Affan.
2.      Untuk mengetahui perkembangan Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan.
3.      Untuk mengetahui berkahirnya kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Khalifah Utsman bin Affan
Utsman memiliki nama lengkap Utsman bin Affan bin Abdillah bin Umayyah bin ‘Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushayi. Beliau dilahirkan pada tahun 576 M di Thaif. Ibunya bernama Urwah keturunan Abdul Muthalib. Ayahnya Affan adalah seorang saudagar yang kaya raya dari suku Quraisy.[1] Utsman dilahirkan pada waktu Rasulullah berusia lima tahun dan masuk islam atas seruan Abu Bakar Ash Shiddiq. Sebelum dan sesudah Islam datang, beliau sangat pemurah dengan menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan agama Islam.[2] Beliau adalah salah satu sahabat yang telah dijamin Rasulullah akan masuk surga. Rasulullah mengawinkan Utsman dengan puterinya Ruqaiyah dan setelah Ruqaiyah meninggal pada waktu perang Badr maka Nabi mengawinkan dengan puterinya yang kedua, yaitu Ummu Kultsum. Oleh karena itu Utsman terkenal dengan julukan “Dzun Nurain” (yang mempunyai dua cahaya). Ummu Kultsum meninggal pada tahun 9 H.
Beliau masuk islam karena ajakan Abu Bakar. Utsman adalah salah seorang yang masuk islam di masa-masa awal dakwah Rasulullah dan sepuluh orang pertama yang masuk Islam.[3]
Pada perang tabuk tatkala pasukan Islam berada dalam kesulitan yang sangat, beliau menyumbangkan 950 unta, 50 kuda dan datang kepada Rasulullah dengan membawa 1000 dinar. Utsman adalah salah seorang dari sepuluh orang yang mendapat jaminan masuk surga dari Rasulullah. Di masa pemerintahan Abu Bakar dia dianggap sebagai orang kedua setelah Umar bin Khatabb. Sedangkan, pada masa pemerintahan Umar dia diposisikan sebagai orang kedua setelah Umar.
B.     Utsman bin Affan Diangkat menjadi Khalifah
Ketika umar terkena tikam, beliau tidak bermaksud untuk mengangkat penggantinya. Namun kaum muslimin khawatir kalau terjadi perpecahan sesudah umar meninggal dunia, oleh karena itu mereka mengusulkan agar umar menunjuk siapa yang akan menjadi pengganti beliau. Beliaupun mencalonkan enam orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah tanpa dihisab. Diantaranya: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abu Waqqash, Abdurrahman bib Auf, Az Zubair bin Al-Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Umar meminta kepada mereka untuk memilih seorang diantara mereka menjadi khalifah. Seorang putera dari Umar yaitu Abdullah bin Umar ditambahkan namun hanya mempunyai hak untuk memilih dan tidak memiliki hak untuk dipilih. Umar meminta mereka bermusyawarah setelah beliau wafat selama tiga hari dan pada hari keempat sudah diputuskan. Ketika Umar wafat, berkumpulah orang yang dicalonkan dan sesuai yang dipesankan oleh Umar. Dari permusyawaratan itu diambil kesimpulan bahwa pendapat tertuju kepada Utsman dan Ali. Maka dipilihlah Utsman, karena Utsman lebih tua dari Ali.[4]
C.    Perkembanagan Islam pada Masa Khalifah Utsman bin Affan
Pada kepemimpinannya, Khalifah Utsman bin Affan banyak menghadapi masalah politik yang cukup serius. Masa enam tahun pertama kebijaksanaannya berjalan cukup baik. Akan tetapi, masa enam tahun terakhir terjadi banyak peristiwa yang berdampak negatif bagi pemerintahannya.
Penyebaran Islam telah luas dan para Qori’ tersebar ke berbagai daerah, sehingga perbedaan bacaanpun terjadi yang diakibatkan berbedanya qari’at dari qari’ yang sampai pada mereka. Para sahabat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa perpecahan dan penyimpangan pada kaum muslimin. Akhirnya sahabat Huzaifah bin Yaman mengusulkan kepada Utsman untuk menyeragamkan bacaan.
Pada akhir 24 H awal 25 H, Khalifah Usman membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit, dengan anggota Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Harist, untuk menyalin mushaf yang disimpan oleh Hafsah (salah seorang istri nabi) dan menyeragamkan dialeknya. Panitia ini bekerja dengan cermat, teliti dan hati-hati sehingga menghasilkan sebuah mushaf. Mushaf tersebut dibukukan sebanyak enam buah mushaf untuk dijadikan pedoman (mushaf Usmani). Enam mushaf tersebut di kirim ke Makkah, Basrah, Kuffah, Mesir, Syiria dan satu untuk disimpan oleh khalifah Usman di Madinah. Sebenarnya pembukuan ini telah dirintis oleh Khalifah Abu Bakar dan diteruskan oleh Khalifah Umar. Namun, pada saat itu pembukuan dilakukan karena banyaknya penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan perang.[5]
Setelah Umar meninggal dunia ada daerah-daerah yang durhaka terhadap pemerintahan Islam. Hal ini tejadi karena kekuatan lama sebelum kekuasaan Islam masuk hendak mengembalikan kekuasaannya. Pemberontakan di Khurasan dicetuskan oleh pendukung-pendukung pemerintahan yang lama. Utsman mengirim Abdullah bin Amir, gubernur Bashrah bersama sejumlah tentara untuk menaklukan kembali daerah Khurasan. Dalam perang ini pihak kaum Muslimin berhasil menaklukkan kembali wilayah Khurasan. Adapun kota Iskandariyah, telah diserang kembali oleh bangsa Romawi. Utsman mengirimkan tentara, balatentara ini dapat menghancurkan kaum pemberontak serta dapat mengembalikan keamanan dan ketentraman daerah tersebut.[6]
Perluasan Islam boleh dikatakan semua daerah yang telah dicapai balatentara Islam di masa Umar. Perluasan ini di masa Usman telah bertambah dengan perluasan ke laut. Kaum muslimin telah mempunyai angkatan laut.
Muawiyah merupakan gubernur wilayah Syam sejak pemerintahan Umar. Dia merupakan gubernur yang telah berhasil membangun armada laut yang dipergunakan untuk berperang dengan pihak Bizantium. Dalam perang ini ia berhasil melebarkan sayap pemerintahan Islam sampai ke Amuriah di Asia kecil. Begitu juga dengan armada lautnya ini Gubernur Muawiyah berhasil menguasai pulau Cyprus dan Rhodes.
Pada awal pemerintahannya, Utsman melanjutkan kesuksesan para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai Islam seperti Mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencanakan secara cermat dan simultan. Di Mesir pasukan muslim diinstruksikan untuk memasuki Afrika Utara. Salah satu pertempuran yang penting adalah Dzatus Shawari (peperangan tiang kapal).[7]
Perang Dzatus Shawari merupakan perang laut pertama kali yang dialami kaum muslim. Pasukan Islam berhadapan dengan pasukan Romawi di pantai Kilikiya. Pasukan Islam dipimpin oleh Abdullah bin Abu Sarah yang diutus oleh Muawiyah bin Abi Sufyan.
D.    Berkhirnya Kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan
Sebagian besar masa pemerintahan Utsman dilalui dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Namun, diakhir pemerintahannya terjadi gejolak. Terjadi bencana besar (fitnah kubra) yang kemudian mengakibatkan terbunuhnya Utsman secara terzalimi dan terjadi perpecahan umat serta renggangnya kesatuan mereka.
Khalifah Usman telah mengikuti politik khalifah Umar, yakni selalu mencari informasi tentang prilaku para gubernur dari para delegasi yang datang kepadanya dan sering menanyakan perihal perlakuan para gubernur kepada rakyat. Namun, banyak di antara informasi yang diterimanya itu semata-mata fitnah dan tuduhan palsu bagi para gubernur. Orang yang mempunyai tujuan tidak baik telah menjadikan peluang ini sebagai jalan untuk memperoleh kepentingan pribadi. Salah satu sifat Khalifah Usman adalah mudah terpengaruh dengan cerita orang yang ada didepannya. Kemudian pemerintahannya berada di bawah kendali para familinya. Keterpihakannya kepada kaum kerabat telah menimbulkan kebencian dari penduduk madinah dan sejumlah besar penduduk kota-kota di berbagai wilayah negeri Islam.
Berkobarlah fitnah besar di tengah kaum muslimin yang dikobarkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Orang ini telah berkeliling di berbagai kota dan menetap di Mesir. Dia kemudian menaburkan keraguan ditengah masyarakat tentang akidah mereka dan mengecam Utsman dan para gubernurnya. Dia gencar mengajak semua orang untuk menurunkan Utsman dan menggantinya dengan Ali sebagai usaha menaburkan benih fitnah dan benih perpecahan.
Maka mulailah pecah fitnah di Kufah pada tahun 34 H/654 M. Mereka mulai menuntut kepada khalifah untuk mengganti gubernur Kufah. Akhirnya, Utsman menggantinya untuk memenuhi tuntutan mereka dan sebagai upaya untuk meredam fitnah yang lebih besar. Setelah itu ada sejumlah manusia yang datang menyerbu Madinah untuk mendebat khalifah. Mereka datang dari Kufah, Bashrah, dan Mesir pada saat yang bersamaan. Ali mencegah mereka dan menerangkan bahwa apa yang mereka lakukan ini adalah kesalahan besar. Apalagi, khalifah juga melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri dengan pebelaan yang sangat masuk akal. Maka para pemberontak itu pulang dengan tangan hampa.
Abdullah bin Saba’ paham bahwa kesempatan yang telah dia bangun selama bertahun-tahun tampaknya akan lenyap begitu saja. Maka, dia mencari siasat licik dan mengatur strateginya. Dia membuat sebuah surat palsu atas nama khalifah, Ali dan Aisyah yang didalamnya berisi tulisan bahwa khalifah akan mengundurkan diri dan Ali akan naik. Disebutkan bahwa siapa saja yang tidak setuju, maka orang yang bersangkutan akan dibunuh.[8]
Pemberontak itu kembali lagi ke Madinah. Mereka mengepung kediaman Utsman bin Affan. Utsman segera meminta para gubernurnya untuk mengirimkan pasukan ke Madinah. Para pemberontak mendengar kabar bahwa pasukan bantuan akan segera tiba. Mendengar kabar itu mereka khawatir dan kemudian memasuki rumah Utsman dengan cara melompati pagar rumahnya. Mereka membunuh Utsman dengan pedang dan merampok Baitul Mal. akhirnya Khalifah Usman terbunuh pada akhir tahun ke-35 H.[9]


DAFTAR PUSTAKA

Al-Usairy, A. (2011). Sejarah Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX). Akbar Media.

Amin, S M. (2010). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.

Hasan, H I. (2015). Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Syalabi A. (2003). Sejarah dan Kebudayaan Islam I. PT. Pustaka Al Husna Baru.

Syukur Al-Azizi, A. (2014). Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: Saufa.



[1] Abdul Syukur al-Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Cet. ke-1, (Yogyakarta: Saufa, 2014), hlm. 94
[2] Syalabi A, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, Cet. ke-6, (PT. Pustaka Al Husna Baru, 2003), hlm. 229
[3] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX), Cet. Ke-9, (Akbar Media, 2011), hlm. 165
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Cet. Ke-2, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 100
[5] Abdul Syukur Al-Azizi, Op. Cit., hlm. 98
[6] Samsul Munir Amin, Op. Cit., hlm. 103
[7] Ibid., hlm. 105
[8] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX), Akbar Media, Cet Ke-9 2011. Hlm. 170
[9] Hasan Ibrahim Hasan, Op. Cit., hlm. 504

Tidak ada komentar:

Posting Komentar