BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak yang menganggap pemerintahan pada masa
Khalifah Umar merupakan zaman keemasan Khulafaur Rasyidin. Namun dalam buku
kitab sejarah peradaban islam terlengkap karya Abdul Syukur Al-Azizi
menerangkan bahwa masa keemasan Khulafaur Rasyidin terjadi pada pemerintahan
Utsman bin Affan. Banyak terjadi kesalahpahaman dalam memandang pemerintahan
Utsman. Bahkan Khalifah Utsman dianggap sebagai penyebab perpecahan. Hal itu
sangatlah keliru, menurut catatan ahli sejarah, pemerintahan Khalifah Utsman
dibagi menjadi dua periode, yaitu periode enamtahun pertama merupakan masa
pemerintahan baik, sedangkan periode enam tahun terakhir merupakan masa
pemerintahan yang buruk.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian pada latar belakang kami menemukan beberapa
permasalahan yang muncul.
1. Bagaimana
biografi Khalifah Utsman bi Affan?
2. Bagaimana
pengangkatan Utsman bin Affan menjadi khalifah?
3. Bagaimana
perkembangan Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan?
4. Bagaimana
berakhirnya kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan?
C. Tujuan penulisan
1. Untuk
mengetahui secara detail tentang Khalifah Utsman bin Affan.
2. Untuk
mengetahui perkembangan Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan.
3. Untuk
mengetahui berkahirnya kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Biografi Khalifah Utsman bin Affan
Utsman
memiliki nama lengkap Utsman bin Affan bin Abdillah bin Umayyah bin ‘Abdi Syams
bin Abdi Manaf bin Qushayi. Beliau dilahirkan pada tahun 576 M di Thaif. Ibunya
bernama Urwah keturunan Abdul Muthalib. Ayahnya Affan adalah seorang saudagar
yang kaya raya dari suku Quraisy.[1]
Utsman dilahirkan pada waktu Rasulullah berusia lima tahun dan masuk islam atas
seruan Abu Bakar Ash Shiddiq. Sebelum dan sesudah Islam datang, beliau sangat
pemurah dengan menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan agama Islam.[2]
Beliau adalah salah satu sahabat yang telah dijamin Rasulullah akan masuk
surga. Rasulullah mengawinkan Utsman dengan puterinya Ruqaiyah dan setelah
Ruqaiyah meninggal pada waktu perang Badr maka Nabi mengawinkan dengan puterinya
yang kedua, yaitu Ummu Kultsum. Oleh karena itu Utsman terkenal dengan julukan
“Dzun Nurain” (yang mempunyai dua cahaya). Ummu Kultsum meninggal pada tahun 9
H.
Beliau
masuk islam karena ajakan Abu Bakar. Utsman adalah salah seorang yang masuk
islam di masa-masa awal dakwah Rasulullah dan sepuluh orang pertama yang masuk
Islam.[3]
Pada
perang tabuk tatkala pasukan Islam berada dalam kesulitan yang sangat, beliau
menyumbangkan 950 unta, 50 kuda dan datang kepada Rasulullah dengan membawa
1000 dinar. Utsman adalah salah seorang dari sepuluh orang yang mendapat
jaminan masuk surga dari Rasulullah. Di masa pemerintahan Abu Bakar dia
dianggap sebagai orang kedua setelah Umar bin Khatabb. Sedangkan, pada masa
pemerintahan Umar dia diposisikan sebagai orang kedua setelah Umar.
B. Utsman bin Affan Diangkat menjadi Khalifah
Ketika
umar terkena tikam, beliau tidak bermaksud untuk mengangkat penggantinya. Namun
kaum muslimin khawatir kalau terjadi perpecahan sesudah umar meninggal dunia,
oleh karena itu mereka mengusulkan agar umar menunjuk siapa yang akan menjadi
pengganti beliau. Beliaupun mencalonkan enam orang yang dijamin masuk surga
oleh Rasulullah tanpa dihisab. Diantaranya: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin
Affan, Sa’ad bin Abu Waqqash, Abdurrahman bib Auf, Az Zubair bin Al-Awwam dan
Thalhah bin Ubaidillah. Umar meminta kepada mereka untuk memilih seorang
diantara mereka menjadi khalifah. Seorang putera dari Umar yaitu Abdullah bin
Umar ditambahkan namun hanya mempunyai hak untuk memilih dan tidak memiliki hak
untuk dipilih. Umar meminta mereka bermusyawarah setelah beliau wafat selama
tiga hari dan pada hari keempat sudah diputuskan. Ketika Umar wafat,
berkumpulah orang yang dicalonkan dan sesuai yang dipesankan oleh Umar. Dari
permusyawaratan itu diambil kesimpulan bahwa pendapat tertuju kepada Utsman dan
Ali. Maka dipilihlah Utsman, karena Utsman lebih tua dari Ali.[4]
C. Perkembanagan Islam pada Masa Khalifah Utsman bin
Affan
Pada
kepemimpinannya, Khalifah Utsman bin Affan banyak menghadapi masalah politik
yang cukup serius. Masa enam tahun pertama kebijaksanaannya berjalan cukup
baik. Akan tetapi, masa enam tahun terakhir terjadi banyak peristiwa yang
berdampak negatif bagi pemerintahannya.
Penyebaran
Islam telah luas dan para Qori’ tersebar ke berbagai daerah, sehingga perbedaan
bacaanpun terjadi yang diakibatkan berbedanya qari’at dari qari’ yang sampai
pada mereka. Para sahabat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa
perpecahan dan penyimpangan pada kaum muslimin. Akhirnya sahabat Huzaifah bin
Yaman mengusulkan kepada Utsman untuk menyeragamkan bacaan.
Pada
akhir 24 H awal 25 H, Khalifah Usman membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid
bin Tsabit, dengan anggota Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Al-Ash, dan
Abdurrahman bin Harist, untuk menyalin mushaf yang disimpan oleh Hafsah (salah
seorang istri nabi) dan menyeragamkan dialeknya. Panitia ini bekerja dengan
cermat, teliti dan hati-hati sehingga menghasilkan sebuah mushaf. Mushaf
tersebut dibukukan sebanyak enam buah mushaf untuk dijadikan pedoman (mushaf
Usmani). Enam mushaf tersebut di kirim ke Makkah, Basrah, Kuffah, Mesir, Syiria
dan satu untuk disimpan oleh khalifah Usman di Madinah. Sebenarnya pembukuan
ini telah dirintis oleh Khalifah Abu Bakar dan diteruskan oleh Khalifah Umar.
Namun, pada saat itu pembukuan dilakukan karena banyaknya penghafal Al-Qur’an
yang gugur di medan perang.[5]
Setelah
Umar meninggal dunia ada daerah-daerah yang durhaka terhadap pemerintahan
Islam. Hal ini tejadi karena kekuatan lama sebelum kekuasaan Islam masuk hendak
mengembalikan kekuasaannya. Pemberontakan di Khurasan dicetuskan oleh
pendukung-pendukung pemerintahan yang lama. Utsman mengirim Abdullah bin Amir,
gubernur Bashrah bersama sejumlah tentara untuk menaklukan kembali daerah
Khurasan. Dalam perang ini pihak kaum Muslimin berhasil menaklukkan kembali
wilayah Khurasan. Adapun kota Iskandariyah, telah diserang kembali oleh bangsa
Romawi. Utsman mengirimkan tentara, balatentara ini dapat menghancurkan kaum
pemberontak serta dapat mengembalikan keamanan dan ketentraman daerah tersebut.[6]
Perluasan
Islam boleh dikatakan semua daerah yang telah dicapai balatentara Islam di masa
Umar. Perluasan ini di masa Usman telah bertambah dengan perluasan ke laut.
Kaum muslimin telah mempunyai angkatan laut.
Muawiyah
merupakan gubernur wilayah Syam sejak pemerintahan Umar. Dia merupakan gubernur
yang telah berhasil membangun armada laut yang dipergunakan untuk berperang
dengan pihak Bizantium. Dalam perang ini ia berhasil melebarkan sayap
pemerintahan Islam sampai ke Amuriah di Asia kecil. Begitu juga dengan armada
lautnya ini Gubernur Muawiyah berhasil menguasai pulau Cyprus dan Rhodes.
Pada
awal pemerintahannya, Utsman melanjutkan kesuksesan para pendahulunya, terutama
dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai
Islam seperti Mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan
serangkaian ekspedisi militer yang terencanakan secara cermat dan simultan. Di
Mesir pasukan muslim diinstruksikan untuk memasuki Afrika Utara. Salah satu
pertempuran yang penting adalah Dzatus Shawari (peperangan tiang kapal).[7]
Perang
Dzatus Shawari merupakan perang laut pertama kali yang dialami kaum muslim.
Pasukan Islam berhadapan dengan pasukan Romawi di pantai Kilikiya. Pasukan
Islam dipimpin oleh Abdullah bin Abu Sarah yang diutus oleh Muawiyah bin Abi
Sufyan.
D. Berkhirnya Kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan
Sebagian
besar masa pemerintahan Utsman dilalui dengan keamanan, stabilitas, dan
kemakmuran. Namun, diakhir pemerintahannya terjadi gejolak. Terjadi bencana besar
(fitnah kubra) yang kemudian mengakibatkan terbunuhnya Utsman secara terzalimi
dan terjadi perpecahan umat serta renggangnya kesatuan mereka.
Khalifah
Usman telah mengikuti politik khalifah Umar, yakni selalu mencari informasi
tentang prilaku para gubernur dari para delegasi yang datang kepadanya dan
sering menanyakan perihal perlakuan para gubernur kepada rakyat. Namun, banyak
di antara informasi yang diterimanya itu semata-mata fitnah dan tuduhan palsu
bagi para gubernur. Orang yang mempunyai tujuan tidak baik telah menjadikan
peluang ini sebagai jalan untuk memperoleh kepentingan pribadi. Salah satu
sifat Khalifah Usman adalah mudah terpengaruh dengan cerita orang yang ada
didepannya. Kemudian pemerintahannya berada di bawah kendali para familinya. Keterpihakannya
kepada kaum kerabat telah menimbulkan kebencian dari penduduk madinah dan
sejumlah besar penduduk kota-kota di berbagai wilayah negeri Islam.
Berkobarlah
fitnah besar di tengah kaum muslimin yang dikobarkan oleh Abdullah bin Saba’,
seorang yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Orang ini telah
berkeliling di berbagai kota dan menetap di Mesir. Dia kemudian menaburkan
keraguan ditengah masyarakat tentang akidah mereka dan mengecam Utsman dan para
gubernurnya. Dia gencar mengajak semua orang untuk menurunkan Utsman dan
menggantinya dengan Ali sebagai usaha menaburkan benih fitnah dan benih
perpecahan.
Maka
mulailah pecah fitnah di Kufah pada tahun 34 H/654 M. Mereka mulai menuntut
kepada khalifah untuk mengganti gubernur Kufah. Akhirnya, Utsman menggantinya
untuk memenuhi tuntutan mereka dan sebagai upaya untuk meredam fitnah yang
lebih besar. Setelah itu ada sejumlah manusia yang datang menyerbu Madinah
untuk mendebat khalifah. Mereka datang dari Kufah, Bashrah, dan Mesir pada saat
yang bersamaan. Ali mencegah mereka dan menerangkan bahwa apa yang mereka
lakukan ini adalah kesalahan besar. Apalagi, khalifah juga melakukan pembelaan
terhadap dirinya sendiri dengan pebelaan yang sangat masuk akal. Maka para
pemberontak itu pulang dengan tangan hampa.
Abdullah
bin Saba’ paham bahwa kesempatan yang telah dia bangun selama bertahun-tahun
tampaknya akan lenyap begitu saja. Maka, dia mencari siasat licik dan mengatur
strateginya. Dia membuat sebuah surat palsu atas nama khalifah, Ali dan Aisyah
yang didalamnya berisi tulisan bahwa khalifah akan mengundurkan diri dan Ali
akan naik. Disebutkan bahwa siapa saja yang tidak setuju, maka orang yang
bersangkutan akan dibunuh.[8]
Pemberontak
itu kembali lagi ke Madinah. Mereka mengepung kediaman Utsman bin Affan. Utsman
segera meminta para gubernurnya untuk mengirimkan pasukan ke Madinah. Para
pemberontak mendengar kabar bahwa pasukan bantuan akan segera tiba. Mendengar
kabar itu mereka khawatir dan kemudian memasuki rumah Utsman dengan cara
melompati pagar rumahnya. Mereka membunuh Utsman dengan pedang dan merampok
Baitul Mal. akhirnya Khalifah Usman terbunuh pada akhir tahun ke-35 H.[9]
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Usairy, A.
(2011). Sejarah Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX). Akbar
Media.
Amin, S M.
(2010). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Hasan, H I.
(2015). Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Syalabi A.
(2003). Sejarah dan Kebudayaan Islam I. PT. Pustaka Al Husna Baru.
Syukur Al-Azizi,
A. (2014). Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: Saufa.
[1] Abdul Syukur al-Azizi, Kitab
Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Cet. ke-1, (Yogyakarta: Saufa, 2014),
hlm. 94
[2] Syalabi A, Sejarah dan
Kebudayaan Islam I, Cet. ke-6, (PT. Pustaka Al Husna Baru, 2003), hlm. 229
[3] Ahmad Al-Usairy, Sejarah
Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX), Cet. Ke-9, (Akbar Media, 2011),
hlm. 165
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah
Peradaban Islam, Cet. Ke-2, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 100
[5] Abdul Syukur Al-Azizi, Op.
Cit., hlm. 98
[6]
Samsul Munir Amin, Op.
Cit., hlm. 103
[7] Ibid., hlm. 105
[8] Ahmad Al-Usairy, Sejarah
Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX), Akbar Media, Cet Ke-9 2011.
Hlm. 170
[9] Hasan Ibrahim Hasan, Op.
Cit., hlm. 504
Tidak ada komentar:
Posting Komentar