HAKIKAT
DAN TUJUAN PEMBELAJARAN IPS DI SD/MI
Disusun untuk
memenuhi tugas
Mata Kuliah
: Pembelajaran IPS MI
Dosen Pengampu : Moh. Yasin Abidin,
Disusun oleh:
Kelompok 1
1.
Niza
Mauidhoh Khasanah 2023114048
2.
Fajriani
Risqi Aulia 2023114052
3.
Maftukharsqoh
20231140
4.
Ayu
Nihayah 2023114061
5.
Rahmawati
Dewi 2023224084
JURUSAN
TARBIYAH PRODI PGMI
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ilmu merupakan sebuah istilah yang umum untuk menunjukkan pada
suatu pengetahuan ilmiah yang mengacu pada salah satu ilmu tertentu, seperti
bilologi, antropologi, psikologi, geografi, sejarah, ekonomi dan sebagaianya.
Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat sistematis, mengenai metode
penelitian dan aktivitas penelitian. Sementara itu, manusia membutuhkan satu
sama lain untuk bertahan hidup dan untuk hidup. Sehingga terjadi kerjasama yang
bersifat ajeg dan saling ketergantungan untuk menghasilkan suatu bentuk
masyarakat tertentu. Dengan demikian manusia adalah mahluk sosial. Untuk itu,
manusia perlu mempelajari suatu ilmu untuk menjalani kehidupan. Terutama
kehidupan dalam bermasyarakat atau disebut dengan ilmu sosial yang mencakup
mengenai sosiologi, ekonomi, antropologi, geografi dan sebaginya. Agar nantinya
dapat menjalankan suatu masyarakat dan tercipta kerukunan hidup.
Sebelum mempelajari lebih jauh, maka manusia perlu mengkaji suatu
ilmu agar dapat menerapkannya dalam kehidupan. Untuk itu, perlu adanya suatu
Ilmu Pengetahuan Sosial yang mengkaji kehidupan sosial dalam masyarakat.
Melalui IPS maka manusia dapat menjalin suatu hubungan yang baik,
bersosialisasi dan beradaptasi. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran IPS
umumnya dianggap sebagai mata pelajaran yang mudah dan kurang penting. Anggapan
ini diperkuat dengan kebijakan yaitu tidak memasukkan IPS dalam ujian
nasianoal. Selain itu selama ini mapel IPS banyak diajarkan dengan metode
ceramah deduktif dan satu arah. Sebagai mahasiswa perlu mempelajari hakikat dan
tujuan dari pembelajaran IPS untuk bisa menyesuaikan diri dengan peserta didik
dan lingkungan sekolah nantinya, sehingga anggapan negatif terhadap pembelajaran
IPS bisa dikikis.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
pengertian dari pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial?
2.
Bagaimana
sejarah dan tantangan mata pelajaran IPS?
3.
Bagaimana
hakikat dan tujuan dari pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial?
4.
Bagaimana
pengembanagan materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu
organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman belajar hal ini
dikemukakan oleh R. Gagne. Sedangkan menurut Gagne, belajar merupakan suatu prose
untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah
laku. Adapun menurut Burton dalam Usman dan Setiawati (1993) belajar diartikan
sebagai perubahan tingkah laku pada diri
individu berkat adanya reaksi antara individu dengan individu yang lain dan
individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan
lingkungannya. Dari beberapa pengertian
belajar di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah
suatu aktivitas yang dilakukan seseorang
dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman
atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan
perilaku yang relatif tetap baik dalam berfikir, merasa, maupun dalam
beryindak.[1]
Sedangkan IPS merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai
disiplin ilmu sosial dan humaniora (manusia) serta kegiatan dasar manusia yang
dikemas secara ilmiah dalam rangka memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam
kepada peserta didik. Menurut Buchari Alma, IPS sebagai suatu program
pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam alam lingkungan
fisik maupun sosial yang bahanya diambil dari berbagi ilmu sosial, seperti:
geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik dan psikologi.[2] Jadi
IPS merupakan salah satu mapel yang mengkaji, menelaah tentang gejala dan
masalah sosial yang diberikan mulai dari tingkat SD/MI/SDLB sampai tingkat
SMP/MTs/SMPLB bahkan sampai jenjang SMK.
B. Sejarah dan Tantangan Mata Pelajaran IPS
Calhoun dalam Hasan (1995) mendefinisikan bahwa ilmu-ilmu sosial
adalah studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia. Artinya semua disiplin
ilmu yang mempelajari tingkah laku kelumpok umat manusia dimasukkan dalam
kelompok ilmu-ilmu sosial. Apabila ada disiplin ilmu itu bukanlah ilmu-ilmu
sosial. Walaupun sejumlah ilmu yang berkembang saat ini seperti goegrafi,
antropologi fisik dan psikologi (perhatiannya pada tingkah laku individu bukan
kelompok), tetapi Calhoun mengelompokkan ilmu-ilmu diatas memiliki bagian yang
jugamemperhatikan tingkah laku kelompok umat manusia.
Sumaatmadja membedakan antara ilmu sosial (social science),
studi sosial (social studies), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ilmu
sosial atau ilmu-ilmu sosial adalah bidang-bidang keilmuan yang mempelajari
manusia di masyarakat, mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
Ilmu-ilmu sosial lebih bersifat akademis yang diajarkan di perguruan tinggi dan
tiap bidang keilmuan mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia sebagai
anggota masyarakat. Dari rumpun ilmu-ilmu sosial terdapat berbagai ilmu seperti
ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, dan sosiologi.
Berbeda dengan ilmu sosial, studi sosial (social studies)
bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademik, melainkan lebih
merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam
kerangka kerja pengkajiannya, studi sosial ini menggunakan bidang-bidang
keilmuan yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan demikian, sumaatmadja
sepakat dengan Dr. Achmad Sanusi yang mengatakan bahwa: studi sosial tidak
terlalu bertaraf akademis universiter, bahkan dapat merupakan bahan-bahan
pelajaran bagi murid-murid sejak pendidikan dasar, dan dapat berfungsi sebagai
pengantar bagi lanjutan kepada disiplin-disiplin ilmu sosial. Studi sosial
bersifat interdisipliner, dengan menetapkan pilihan judul atau masalah-masalah
tertentu berdasarkan suatu rangka referansi, dan meninjaunya dari beberapa
sudut sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu dengan yang lainnya.
Kerangka kerja studi sosial menurut Sumaatmadja, penekanannya tidak pada bidang
teoritis, melainkan lebih kepada praktis dalam mengkaji atau mempelajari gejala
dan masalah sosial di masyarakat.
Ilmu Pengetahuan Sosial bukanlah ilmu sosial tetapi lebih dekat
dengan studi sosial. Pengajaran IPS di sekolah tidak menekankan kepada aspek
teoritis keilmuannya, melainkan lebih ditekankan kepada segi praktis dalam
mempelajari, menelaah dan mengkaji gejala dan masalah sosial. Walaupun induk
dari IPS berasal dari rumpun ilmu-ilmu sosial yang banyak dikaji di perguruan
tinggi secara spesifik.
Dikalangan ilmuan terbagi atas dua golongan. Golongan pertama
bernama behavioralisme sosial beranggapan bahwa disiplin ilmu-ilmu
sosial hanyalah merupakan salah satu sumber materi untuk pendidikan. Di Amerika
Serikat tokoh yang memperjuangkan pendapat ini adalah Engle dan Longstreet,
kedua tokoh ini dengan tegas membedakan antara pendidikan sosial (social
education) dan social studies. Bagi mereka pendidikan sosial (dan
atu studi sosial) adalah jauh lebih penting dari pada ilmu sosial karena akan
memberikan bekal nyata bagi kehidupan sosial siswa di masyarakat setelah mereka
selesai pendidikan di sekolah. Dari pola pikirnya, Engle dan Longstreet lebih
dekat dengan keyakinan Sumaatmadja yang mengelompokkan IPS sebagai suatu studi
sosial.
Golongan yang kedua adalah intelektual tradisional. Golongan
ini beranggapan bahwa disiplin ilmu-ilmu sosial adalah sumber satu-satunya
untuk pendidikan IPS. Golongan ini terbagi menjadi tiga kelompok:
1.
Mereka
yang beranggapan bahwa pengajaran ilmu-ilmu sosial adalah terpisah. Namun,
kelemahannya yaitu terkadang ilmu yang dipelajari oleh siswa terpisah dari
konteks sosialnya.
2.
Kelemahan
dari kelompok pertama memunculkan kelompok yang kedua yang berpendapat bahwa
untuk mempelajari suatu konteks sosial misalnya interaksi pasar, maka
dibutuhkan analisis keterhubungan antar disiplin ilmu-ilmu sosial.
3.
Gagasan
keterpaduan (integrated), kelompok ini dibagi menjadi dua: pertama yakni
mereka yang menghendaki agar ilmu-ilmu sosial melebur dirinya menjadi suatu
disiplin ilmu tertentu yang dinamakan ilmu sosial. Kelompok kedua sepakat
memadukan ilmu-imu sosial tetapi tidak bermaksud menciptakan ilmu sosial yang
baru. Kelompok ini menyatakan bahwa disiplin ilmu-ilmu sosial itu dapat
digunakan untuk membahas berbagai permasalahan kehidupan sosial di sekitar
siswa.
Pendidikan ilmu sosial di Indonesia menggunakan keterpaduan
ilmu-ilmu sosial tetapi tidak mengembangkan ilmu baru. Ilmu sosial di SMA
pendekatan keilmuan sesuai jalur kajian ilmu di perguruan tinggi tetap
dipertahankan sedangkan untuk di SMP pendekatan gabungan diterapkan tanpa
memperjelas kedudukan ilmu geografi, ekonomi, sejarah, dan sosiologi secara
terpisah. Di Madrasah Ibtidaiyah, pendidikan IPS tidak nampak sebagai disiplin
ilmu sosial secara terpisah-pisah, namun masih memiliki alur pengelompokan
berdasarkan disiplin ilmu sosial tertentu. Dalam naskah Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar ditegaskan bahwa IPS bersumber pada materi disiplin ilmu Geografi,
Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi, tetapi tujuan pembelajaran IPS sudah diarahkan
untuk membina warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, dan
warga dunia yang cinta damai. Dengan demikian, tujuan IPS mengacu pada
pendekatan behavioralisme sosial sedangkan dalam pendekatan pembelajaran
memilih pendekatan intelektual tradisional yaitu IPS yang terintegrasi.
Tantangan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan membutuhkan
peran mata pelajaran IPS dalam membangun masyarakat Indonesia baru adalah:
1.
Bangsa
Indonesia sedang menghadapi lahirnya masyarakat terbuka atau masyarakat
demokratis. IPS diharapkan memberi bekal peserta didik untuk dapat hidup
bersama dalam masyarakat terbuka yaitu memiliki sikap yang penuh toleransi
tanpa mengorbankan prinsip sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya luhur.
Selain itu, dalam masyarakat demokratis perlu disiapkan masyarakat Indonesia
yang cerdas dan mau aktif berperan serta dalam aspek kehidupan baik dalam
bidang politik, ekonomi, dan sosial.
2.
Bangsa
Indonesia sedang mempersiapkan diri menghadapi era globalisasi yang didukung
oleh teknologi informasi. Karena itu tanpa menutup diri terhadap perubahan
dunia dan globalisasi, bangsa Indonesia perlu memupuk rasa nasionalisme budaya
yang berarti pengakuan terhadap budaya etnis yang beragam, yang lahir dan
berkembang di dalam masyarakat Indonesia yang beragam.
3.
Bangsa
Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumberdaya alam. Oleh karena itu, IPS
sebaiknya segera memaknai sumber daya alam sebagi kekayaan bangsa yang perlu
digali dan dikelola oleh anak bangsa Indonesia dan bukan oleh pihak asing.
4.
Saat
ini bumi nusantara sedang mengalami kerusakan alam yang semakin parah. IPS
hendaknya dapat berperan untuk memberi pemahaman yang baik tentang upaya
pelestarian dan memanfaatan sumber daya alam lokal.
5.
Dunia
saat ini sedang menghadapi perdagangan pasar bebas (WTO) sebagai dampak
kelanjutan proses globalisasi. Dalam perdagangan bebas, pengusahaan-perusahaan
asing akan dengan bebasnya masuk ke dalam negeri tanpa proteksi sesuai dengan Agreement
Establishing the World Trande Organization (WTO). Langkah strategis untuk
mengimbangi dan mengungguli pasar bebas tersebut adalah meningkatkan daya saing
produk barang dan jasa, melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia sebagai
subjek dalam persaingan tersebut. IPS harus mampu berperan serta dalam
menyampaikan informasi tantangan pasar bebas dengan baik agar peserta didik
dapat menyiapkan diri lebih awal.
6.
Masyarakat
dunia pada tahun 2000 telah mencapai lebih dari 5 milyar. Karena itu IPS
hendaknya dapat memberi rancangan agar peserta didik dapat berperan serta dalam
menghadapi ledakan penduduk.
C. Tujuan Pembelajaran IPS
Pendidikan IPS di jenjang sekolah dasar tidak hanya memberikan
bekal pengetahuan saja tapi juga memberikan bekal nilai dan sikap serta
ketrampilan dalam kehidupan di masyarakat, bangsa dan negara. Dalam pendidikan
IPS dikembangkan dalam tiga pembelajaran, yaitu aspek pengetahuan, ketrampilan
dan sikap yang menjadi acuan untuk mengembangkan pemilihan materi, strategi, dan
model pembelajaran. Tujuan utama pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar peka terhadap
masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala
ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari baik yang menimpa dirinya maupun masyarakat.
Untuk tingkat
madrasah ibtidaiyah, mata pelajaran IPS memiliki tujuan yaitu agar peserta
didik memiliki kemampuan:
1.
Mengenal
konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya;
2.
Memiliki
kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial;
3.
Memiliki
komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan;
4.
Memiliki
kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetensi dalam masyarakat yang
majemuk ditingkat lokal, nasional dan global.
Menurut Chapin dan Messick ( 1992:5
) dalam buku Pengembangan Pembelajaran IPS di SD yang di tulis oleh dr. Ahmad
Susanto, M.Pd. bahwa tujuan pembelajaran IPS dapat dikelompokkan ke dalam enam
komponen, yaitu:
1.
Memberikan
pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam bermasyarakat pada masa lalu,
sekrang, dan yang akan datang.
2.
Mengembangkan
ketrampilan untuk mencari dan mengolah informasi.
3.
Mengembangkan
nilai sikap demokrasi dalam bermasyarakat.
4.
Menyediakan
kesempatan siswa untuk berperan serta dalam kehidupan sosial.
5.
Ditujukan
pada pembekalan pengetahuan, pengembangan berfikirdan kemampuan berfikir
kritis, melatih kebebasan keterampilan dan kebiasaan.
6.
Ditujukan
kepada peserta didik untuk mampumemahami hal yang bersifat konret, realistis
dalam kehidupan sosial.
Menurut Awan Mutakin ( 2007: 8 )
juga menjelaskan tujuan pembelajaran IPS di sekolah adalah:
1.
Memiliki
kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui
pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat
2.
Mengetahui
dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode- metode yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial
3.
Mampu
menggunakan model-model dan proses berfikir serta membuat keputusan untuk
menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat
4.
Menaruh
perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat
analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat
5.
Mampu
mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri.[3]
Menurut Nur Hadi, tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mengenal
diri mereka sendiri dan lingkunagannya, untuk membentuk dan mengembangkan
pribadi warga negara yang baik. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan
untuk mencari dan mengolah atau memproses
informasi. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai atau sikap demokrasi
dalam kehidupan masyarakat.[4]
Berdasarkan ranah tujuan
pembelajaran, mata pelajaran IPS sama halnya dengan mata pelajaran lainnya,
memiliki tiga kelompok ranah tujuan pembelajaran yaitu ranah kognitif, afektif
dan konatif. Ranah kognitif yag paling esensial adalah pengetahuan dan pemahaman.
Ranah afektif yang paling esensial adalah pengembangan nilai, sikap dan moral.
Ranah konatif adalah keinginan untuk melaksanakan dan membuktikannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan dan pemahaman adalah
tujuan pendidikan yang paling dasar. Pengetahuan berhubungan dengan daya ingat
seseorang. Apa yang didengar, dilihat, atau dibaca seseorang disimpan dalam
ingatannya kemudian dipanggil kembali dalam keadaan yang belum terolah, maka
itulah pengetahuan. Pengetahuan atau ingatan menjadi penting sebagai dasar untuk meningkat pada
tahapan pemahaman. Seseorang yang tidak ingat terhadap sesuatu, maka tidak
memiliki pemahaan apapun.
Untuk mencapai pemahaman terhadap
sesuatu tidak cukup hanya dengan ingatan. Namun seseorang harus mampu
mengaitkan apa yang dihafalnya dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya.
Pemahaman dapat pula dikatakan dengan pengetahuan yang bermakna, pengetahuan
tanpa pemahaman akan menjadikan seseorang hafal, tetap tidak mengerti apa yang
dikatakannya. Untuk mencapai suatu pemahaman. Seorang dituntut untuk melakukan
proses pengolahan informasi. Dalam tingkatan tertinggi, seseorang dapat
dikatakan paham terhadap suatu informasi apabila ia mampu menggunakan informasi
yang telah dimilikinya tersebut untuk
mengahasilkan informasi baru.
Sikap, nilai dan moral merupakan
aspek afektif dalam ranah tujuan pendidikan. Sikap adalah kecenderungan
psikologis seseorang terhadap benda, sifat, keadaan, pekerjaan, pendapat dan
lain-lain. Kecenderungan tersebut baru berkembang setelah bersangkutan
mengetahui benda, sifat, keadaan, pekerjaan atau pendapat tersebut. Artiya
sikap hanya berlaku untuk sesuatu yang sudah dikenal dan bukan sesuatu yang
belum pernah diketahui sama sekali. (Hasan,1995;114).
Pembelajaran IPS yang diberi amanah
untuk menyampaikan nilai-nilai
masyarakat yang menjunjung tinggi kemuliaan harkat dan
derajat manusia, harus mampu memberi penjelasan. Suatu masyarakat
yang melanggar aturan agama dan hak-hak asasi manusia akan menanggung
akibatnya, yaitu kehancuran. Demikianlah tugas seorang guru IPS di tengah
masyarakat. Jika diniatkan secara ikhlas, mengajar IPS adalah da’wah islamiyah
yang sesungguhnya karena di dalamnya menyampaikan nilai dan moral agama islam.
Dalam pembelajaran IPS, ranah
konatif dapat dinilai dari perilaku siswa keseharian. Tujuan konatif untuk
pendidikan ilmu-ilmu sosial, menurut Hasan (1995:117) antara lain:
a.
Sikap
dan kehidupan yang relegius
b.
Melaksanakan
tugas-tugas sosial
c.
Melaksanakan
tanggung jawab pribadi
d.
Bekerja
keras
e.
Bekerja
dengan jujur
f.
Kemampuan
dan kemauan beradaptasi.
D. Pengembanagan Materi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
BAB III
KESIMPULAN
IPS
merupakan perpaduan antara ilmu sosial dan kehidupan sosial dan kehidupan
manusia didalamnya yang mencakup antropologi, sejarah, geografi, sosiologi,
ekonomi, politik, agama, filsafat, hukum dan psikologi. Di mana tujuan utamanya
adalah membantu mengemabangkan kemampuan dan wawasan siswa menyeluruh tentang
berbagai aspek ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (humaniora). Ruang lingkup IPS
meliputi manusia, tempat tinggal dan lingkingan, sistem sosial dan budaya,
perilaku ekonomi dan sosial, dan waktu, berkelanjutan dan perubahan. Hakikat
pendidikan IPS hendaknya dikembangkan berdasarkan realita kondisi sosial budaya
yan ada dilingkungan siswa, sehingga dapat membina menjadi warga negara yang
baik yang mampu memahami dan menelaah secara kritis kehidupan sosial
disekitarnya, serta mampu secara aktif berpartisipasi dalam lingkungan
kehidupan di masyarakat, negara maupun dunia.
Tujuan
pembelajaran IPS adalah membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang
berguna bagi kehidupan kelak, membekali anak didik dengan kemampuan komunikasi dengan sesama
warga masyarakat, membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang
porsitif dan ketrampilan keilmuan terhadap kemanfaatan lingkungan, seta
membekali peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, meganalisis, dan
menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Susanto, A. 2013.
Teori Belajar dan Pembelajaran di
Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
_____ . 2014. Pengembangan Pembelajaran
IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar