Sabtu, 15 Oktober 2016

MAKALAH DARI MODUL HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJARAN IPS DI SD/MI



HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJARAN IPS DI SD/MI
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah                        : Pembelajaran IPS MI
Dosen Pengampu                : Moh. Yasin Abidin,


Disusun oleh:
Kelompok 1
1.      Niza Mauidhoh Khasanah       2023114048
2.      Fajriani Risqi Aulia                  2023114052
3.      Maftukharsqoh                        20231140
4.      Ayu Nihayah                           2023114061
5.      Rahmawati Dewi                     2023224084





JURUSAN TARBIYAH PRODI PGMI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016

DAFTAR PUSTAKA


 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Ilmu merupakan sebuah istilah yang umum untuk menunjukkan pada suatu pengetahuan ilmiah yang mengacu pada salah satu ilmu tertentu, seperti bilologi, antropologi, psikologi, geografi, sejarah, ekonomi dan sebagaianya. Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat sistematis, mengenai metode penelitian dan aktivitas penelitian. Sementara itu, manusia membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup dan untuk hidup. Sehingga terjadi kerjasama yang bersifat ajeg dan saling ketergantungan untuk menghasilkan suatu bentuk masyarakat tertentu. Dengan demikian manusia adalah mahluk sosial. Untuk itu, manusia perlu mempelajari suatu ilmu untuk menjalani kehidupan. Terutama kehidupan dalam bermasyarakat atau disebut dengan ilmu sosial yang mencakup mengenai sosiologi, ekonomi, antropologi, geografi dan sebaginya. Agar nantinya dapat menjalankan suatu masyarakat dan tercipta kerukunan hidup.
Sebelum mempelajari lebih jauh, maka manusia perlu mengkaji suatu ilmu agar dapat menerapkannya dalam kehidupan. Untuk itu, perlu adanya suatu Ilmu Pengetahuan Sosial yang mengkaji kehidupan sosial dalam masyarakat. Melalui IPS maka manusia dapat menjalin suatu hubungan yang baik, bersosialisasi dan beradaptasi. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran IPS umumnya dianggap sebagai mata pelajaran yang mudah dan kurang penting. Anggapan ini diperkuat dengan kebijakan yaitu tidak memasukkan IPS dalam ujian nasianoal. Selain itu selama ini mapel IPS banyak diajarkan dengan metode ceramah deduktif dan satu arah. Sebagai mahasiswa perlu mempelajari hakikat dan tujuan dari pembelajaran IPS untuk bisa menyesuaikan diri dengan peserta didik dan lingkungan sekolah nantinya, sehingga anggapan negatif terhadap pembelajaran IPS bisa dikikis.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.    Bagaimana pengertian dari pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial?
2.    Bagaimana sejarah dan tantangan mata pelajaran IPS?
3.    Bagaimana hakikat dan tujuan dari pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial?
4.    Bagaimana pengembanagan materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial?




BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman belajar hal ini dikemukakan oleh R. Gagne. Sedangkan menurut Gagne, belajar merupakan suatu prose untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku. Adapun menurut Burton dalam Usman dan Setiawati (1993) belajar diartikan sebagai  perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya reaksi antara individu dengan individu yang lain dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Dari beberapa pengertian  belajar di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu aktivitas  yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berfikir, merasa, maupun dalam beryindak.[1]
Sedangkan IPS merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora (manusia) serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam rangka memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik. Menurut Buchari Alma, IPS sebagai suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya  mempersoalkan manusia dalam alam lingkungan fisik maupun sosial yang bahanya diambil dari berbagi ilmu sosial, seperti: geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik dan psikologi.[2] Jadi IPS merupakan salah satu mapel yang mengkaji, menelaah tentang gejala dan masalah sosial yang diberikan mulai dari tingkat SD/MI/SDLB sampai tingkat SMP/MTs/SMPLB bahkan sampai jenjang SMK.

B.     Sejarah dan Tantangan Mata Pelajaran IPS

Calhoun dalam Hasan (1995) mendefinisikan bahwa ilmu-ilmu sosial adalah studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia. Artinya semua disiplin ilmu yang mempelajari tingkah laku kelumpok umat manusia dimasukkan dalam kelompok ilmu-ilmu sosial. Apabila ada disiplin ilmu itu bukanlah ilmu-ilmu sosial. Walaupun sejumlah ilmu yang berkembang saat ini seperti goegrafi, antropologi fisik dan psikologi (perhatiannya pada tingkah laku individu bukan kelompok), tetapi Calhoun mengelompokkan ilmu-ilmu diatas memiliki bagian yang jugamemperhatikan tingkah laku kelompok umat manusia.
Sumaatmadja membedakan antara ilmu sosial (social science), studi sosial (social studies), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ilmu sosial atau ilmu-ilmu sosial adalah bidang-bidang keilmuan yang mempelajari manusia di masyarakat, mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Ilmu-ilmu sosial lebih bersifat akademis yang diajarkan di perguruan tinggi dan tiap bidang keilmuan mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. Dari rumpun ilmu-ilmu sosial terdapat berbagai ilmu seperti ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, dan sosiologi.
Berbeda dengan ilmu sosial, studi sosial (social studies) bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademik, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajiannya, studi sosial ini menggunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan demikian, sumaatmadja sepakat dengan Dr. Achmad Sanusi yang mengatakan bahwa: studi sosial tidak terlalu bertaraf akademis universiter, bahkan dapat merupakan bahan-bahan pelajaran bagi murid-murid sejak pendidikan dasar, dan dapat berfungsi sebagai pengantar bagi lanjutan kepada disiplin-disiplin ilmu sosial. Studi sosial bersifat interdisipliner, dengan menetapkan pilihan judul atau masalah-masalah tertentu berdasarkan suatu rangka referansi, dan meninjaunya dari beberapa sudut sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu dengan yang lainnya. Kerangka kerja studi sosial menurut Sumaatmadja, penekanannya tidak pada bidang teoritis, melainkan lebih kepada praktis dalam mengkaji atau mempelajari gejala dan masalah sosial di masyarakat.
Ilmu Pengetahuan Sosial bukanlah ilmu sosial tetapi lebih dekat dengan studi sosial. Pengajaran IPS di sekolah tidak menekankan kepada aspek teoritis keilmuannya, melainkan lebih ditekankan kepada segi praktis dalam mempelajari, menelaah dan mengkaji gejala dan masalah sosial. Walaupun induk dari IPS berasal dari rumpun ilmu-ilmu sosial yang banyak dikaji di perguruan tinggi secara spesifik.
Dikalangan ilmuan terbagi atas dua golongan. Golongan pertama bernama behavioralisme sosial beranggapan bahwa disiplin ilmu-ilmu sosial hanyalah merupakan salah satu sumber materi untuk pendidikan. Di Amerika Serikat tokoh yang memperjuangkan pendapat ini adalah Engle dan Longstreet, kedua tokoh ini dengan tegas membedakan antara pendidikan sosial (social education) dan social studies. Bagi mereka pendidikan sosial (dan atu studi sosial) adalah jauh lebih penting dari pada ilmu sosial karena akan memberikan bekal nyata bagi kehidupan sosial siswa di masyarakat setelah mereka selesai pendidikan di sekolah. Dari pola pikirnya, Engle dan Longstreet lebih dekat dengan keyakinan Sumaatmadja yang mengelompokkan IPS sebagai suatu studi sosial.
Golongan yang kedua adalah intelektual tradisional. Golongan ini beranggapan bahwa disiplin ilmu-ilmu sosial adalah sumber satu-satunya untuk pendidikan IPS. Golongan ini terbagi menjadi tiga kelompok:
1.      Mereka yang beranggapan bahwa pengajaran ilmu-ilmu sosial adalah terpisah. Namun, kelemahannya yaitu terkadang ilmu yang dipelajari oleh siswa terpisah dari konteks sosialnya.
2.      Kelemahan dari kelompok pertama memunculkan kelompok yang kedua yang berpendapat bahwa untuk mempelajari suatu konteks sosial misalnya interaksi pasar, maka dibutuhkan analisis keterhubungan antar disiplin ilmu-ilmu sosial.
3.      Gagasan keterpaduan (integrated), kelompok ini dibagi menjadi dua: pertama yakni mereka yang menghendaki agar ilmu-ilmu sosial melebur dirinya menjadi suatu disiplin ilmu tertentu yang dinamakan ilmu sosial. Kelompok kedua sepakat memadukan ilmu-imu sosial tetapi tidak bermaksud menciptakan ilmu sosial yang baru. Kelompok ini menyatakan bahwa disiplin ilmu-ilmu sosial itu dapat digunakan untuk membahas berbagai permasalahan kehidupan sosial di sekitar siswa.
Pendidikan ilmu sosial di Indonesia menggunakan keterpaduan ilmu-ilmu sosial tetapi tidak mengembangkan ilmu baru. Ilmu sosial di SMA pendekatan keilmuan sesuai jalur kajian ilmu di perguruan tinggi tetap dipertahankan sedangkan untuk di SMP pendekatan gabungan diterapkan tanpa memperjelas kedudukan ilmu geografi, ekonomi, sejarah, dan sosiologi secara terpisah. Di Madrasah Ibtidaiyah, pendidikan IPS tidak nampak sebagai disiplin ilmu sosial secara terpisah-pisah, namun masih memiliki alur pengelompokan berdasarkan disiplin ilmu sosial tertentu. Dalam naskah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ditegaskan bahwa IPS bersumber pada materi disiplin ilmu Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi, tetapi tujuan pembelajaran IPS sudah diarahkan untuk membina warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, dan warga dunia yang cinta damai. Dengan demikian, tujuan IPS mengacu pada pendekatan behavioralisme sosial sedangkan dalam pendekatan pembelajaran memilih pendekatan intelektual tradisional yaitu IPS yang terintegrasi.
Tantangan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan membutuhkan peran mata pelajaran IPS dalam membangun masyarakat Indonesia baru adalah:
1.      Bangsa Indonesia sedang menghadapi lahirnya masyarakat terbuka atau masyarakat demokratis. IPS diharapkan memberi bekal peserta didik untuk dapat hidup bersama dalam masyarakat terbuka yaitu memiliki sikap yang penuh toleransi tanpa mengorbankan prinsip sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya luhur. Selain itu, dalam masyarakat demokratis perlu disiapkan masyarakat Indonesia yang cerdas dan mau aktif berperan serta dalam aspek kehidupan baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial.
2.      Bangsa Indonesia sedang mempersiapkan diri menghadapi era globalisasi yang didukung oleh teknologi informasi. Karena itu tanpa menutup diri terhadap perubahan dunia dan globalisasi, bangsa Indonesia perlu memupuk rasa nasionalisme budaya yang berarti pengakuan terhadap budaya etnis yang beragam, yang lahir dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia yang beragam.
3.      Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumberdaya alam. Oleh karena itu, IPS sebaiknya segera memaknai sumber daya alam sebagi kekayaan bangsa yang perlu digali dan dikelola oleh anak bangsa Indonesia dan bukan oleh pihak asing.
4.      Saat ini bumi nusantara sedang mengalami kerusakan alam yang semakin parah. IPS hendaknya dapat berperan untuk memberi pemahaman yang baik tentang upaya pelestarian dan memanfaatan sumber daya alam lokal.
5.      Dunia saat ini sedang menghadapi perdagangan pasar bebas (WTO) sebagai dampak kelanjutan proses globalisasi. Dalam perdagangan bebas, pengusahaan-perusahaan asing akan dengan bebasnya masuk ke dalam negeri tanpa proteksi sesuai dengan Agreement Establishing the World Trande Organization (WTO). Langkah strategis untuk mengimbangi dan mengungguli pasar bebas tersebut adalah meningkatkan daya saing produk barang dan jasa, melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia sebagai subjek dalam persaingan tersebut. IPS harus mampu berperan serta dalam menyampaikan informasi tantangan pasar bebas dengan baik agar peserta didik dapat menyiapkan diri lebih awal.
6.      Masyarakat dunia pada tahun 2000 telah mencapai lebih dari 5 milyar. Karena itu IPS hendaknya dapat memberi rancangan agar peserta didik dapat berperan serta dalam menghadapi ledakan penduduk.

C.    Tujuan Pembelajaran IPS

Pendidikan IPS di jenjang sekolah dasar tidak hanya memberikan bekal pengetahuan saja tapi juga memberikan bekal nilai dan sikap serta ketrampilan dalam kehidupan di masyarakat, bangsa dan negara. Dalam pendidikan IPS dikembangkan dalam tiga pembelajaran, yaitu aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang menjadi acuan untuk mengembangkan pemilihan materi, strategi, dan model pembelajaran. Tujuan utama pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka  terhadap masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat, memiliki sikap  mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari baik yang menimpa dirinya maupun masyarakat.
Untuk tingkat madrasah ibtidaiyah, mata pelajaran IPS memiliki tujuan yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan:
1.      Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya;
2.      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial;
3.      Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan;
4.      Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk ditingkat lokal, nasional dan global.
Menurut Chapin dan Messick ( 1992:5 ) dalam buku Pengembangan Pembelajaran IPS di SD yang di tulis oleh dr. Ahmad Susanto, M.Pd. bahwa tujuan pembelajaran IPS dapat dikelompokkan ke dalam enam komponen, yaitu:
1.      Memberikan pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam bermasyarakat pada masa lalu, sekrang, dan yang akan datang.
2.      Mengembangkan ketrampilan untuk mencari dan mengolah informasi.
3.      Mengembangkan nilai sikap demokrasi dalam bermasyarakat.
4.      Menyediakan kesempatan siswa untuk berperan serta dalam kehidupan sosial.
5.      Ditujukan pada pembekalan pengetahuan, pengembangan berfikirdan kemampuan berfikir kritis, melatih kebebasan keterampilan dan kebiasaan.
6.      Ditujukan kepada peserta didik untuk mampumemahami hal yang bersifat konret, realistis dalam kehidupan sosial.
Menurut Awan Mutakin ( 2007: 8 ) juga menjelaskan tujuan pembelajaran IPS di sekolah adalah:
1.      Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat
2.      Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode- metode yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial
3.      Mampu menggunakan model-model dan proses berfikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat
4.      Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat
5.      Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri.[3]
Menurut Nur Hadi, tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mengenal diri mereka sendiri dan lingkunagannya, untuk membentuk dan mengembangkan pribadi warga negara yang baik. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk mencari dan mengolah atau memproses  informasi. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai atau sikap demokrasi dalam kehidupan masyarakat.[4]
Berdasarkan ranah tujuan pembelajaran, mata pelajaran IPS sama halnya dengan mata pelajaran lainnya, memiliki tiga kelompok ranah tujuan pembelajaran yaitu ranah kognitif, afektif dan konatif. Ranah kognitif yag paling esensial adalah pengetahuan dan pemahaman. Ranah afektif yang paling esensial adalah pengembangan nilai, sikap dan moral. Ranah konatif adalah keinginan untuk melaksanakan dan membuktikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan dan pemahaman adalah tujuan pendidikan yang paling dasar. Pengetahuan berhubungan dengan daya ingat seseorang. Apa yang didengar, dilihat, atau dibaca seseorang disimpan dalam ingatannya kemudian dipanggil kembali dalam keadaan yang belum terolah, maka itulah pengetahuan. Pengetahuan atau ingatan menjadi  penting sebagai dasar untuk meningkat pada tahapan pemahaman. Seseorang yang tidak ingat terhadap sesuatu, maka tidak memiliki pemahaan apapun.
Untuk mencapai pemahaman terhadap sesuatu tidak cukup hanya dengan ingatan. Namun seseorang harus mampu mengaitkan apa yang dihafalnya dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya. Pemahaman dapat pula dikatakan dengan pengetahuan yang bermakna, pengetahuan tanpa pemahaman akan menjadikan seseorang hafal, tetap tidak mengerti apa yang dikatakannya. Untuk mencapai suatu pemahaman. Seorang dituntut untuk melakukan proses pengolahan informasi. Dalam tingkatan tertinggi, seseorang dapat dikatakan paham terhadap suatu informasi apabila ia mampu menggunakan informasi yang telah dimilikinya tersebut untuk  mengahasilkan informasi baru.
Sikap, nilai dan moral merupakan aspek afektif dalam ranah tujuan pendidikan. Sikap adalah kecenderungan psikologis seseorang terhadap benda, sifat, keadaan, pekerjaan, pendapat dan lain-lain. Kecenderungan tersebut baru berkembang setelah bersangkutan mengetahui benda, sifat, keadaan, pekerjaan atau pendapat tersebut. Artiya sikap hanya berlaku untuk sesuatu yang sudah dikenal dan bukan sesuatu yang belum pernah diketahui sama sekali. (Hasan,1995;114).
Pembelajaran IPS yang diberi amanah untuk  menyampaikan nilai-nilai masyarakat yang menjunjung tinggi kemuliaan harkat  dan  derajat manusia, harus mampu memberi penjelasan. Suatu  masyarakat  yang melanggar aturan agama dan hak-hak asasi manusia akan menanggung akibatnya, yaitu kehancuran. Demikianlah tugas seorang guru IPS di tengah masyarakat. Jika diniatkan secara ikhlas, mengajar IPS adalah da’wah islamiyah yang sesungguhnya karena di dalamnya menyampaikan nilai dan moral agama islam.
Dalam pembelajaran IPS, ranah konatif dapat dinilai dari perilaku siswa keseharian. Tujuan konatif untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial, menurut Hasan (1995:117) antara lain:
a.       Sikap dan kehidupan yang relegius
b.      Melaksanakan tugas-tugas sosial
c.       Melaksanakan tanggung jawab pribadi
d.      Bekerja keras
e.       Bekerja dengan jujur
f.       Kemampuan dan kemauan beradaptasi.

D.    Pengembanagan Materi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial







BAB III

KESIMPULAN

IPS merupakan perpaduan antara ilmu sosial dan kehidupan sosial dan kehidupan manusia didalamnya yang mencakup antropologi, sejarah, geografi, sosiologi, ekonomi, politik, agama, filsafat, hukum dan psikologi. Di mana tujuan utamanya adalah membantu mengemabangkan kemampuan dan wawasan siswa menyeluruh tentang berbagai aspek ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (humaniora). Ruang lingkup IPS meliputi manusia, tempat tinggal dan lingkingan, sistem sosial dan budaya, perilaku ekonomi dan sosial, dan waktu, berkelanjutan dan perubahan. Hakikat pendidikan IPS hendaknya dikembangkan berdasarkan realita kondisi sosial budaya yan ada dilingkungan siswa, sehingga dapat membina menjadi warga negara yang baik yang mampu memahami dan menelaah secara kritis kehidupan sosial disekitarnya, serta mampu secara aktif berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan di masyarakat, negara maupun dunia.
Tujuan pembelajaran IPS adalah membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna bagi kehidupan kelak, membekali anak didik  dengan kemampuan komunikasi dengan sesama warga masyarakat, membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang porsitif dan ketrampilan keilmuan terhadap kemanfaatan lingkungan, seta membekali peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, meganalisis, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.






DAFTAR PUSTAKA

Susanto, A. 2013. Teori Belajar  dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

_____ . 2014. Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group.




[1] Ahmad Susanto, Teori Belajar  dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, 2013, Jakarta: Kencana Prenada Media Group,  hlm. 1-4
[2] Ibid, Ahmad Susanto, hlm. 137-141
[3] Ahmad Susanto, Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, Cet. 1 ( Jakarta: Prenadamedia Group, 2014 ), Hlm. 10-11.
[4] Op cit, Ahmad Susanto, Teori Belajar  dan Pembelajaran di Sekolah Dasar hlm. 146

Tidak ada komentar:

Posting Komentar